Selasa, 26 September 2017

Inay, Torehkan Prestasi di Kejuaraan Renang antar Pelajar se DIY-Jateng


Tepatnya, Minggu 24/9 di Kulonprogo diadakan Kejuaraan Lomba Renang antar Pelajar se-DIY dan Jawa Tengah di Kolam Renang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Kampus Wates. Kejuaran yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Renang Tirta Amanda Binangun (PR TAB) Kulonprogo digelar dalam rangka meningkatkan prestasi renang pelajar di Jateng-DIY.


Nayla Zalika Aishanazneen, siswa kelas IV D Thalhah SD Unggulan ‘Aisyiyah (SDUA) Bantul menorehkan prestasi dalam kejuaraan renang kali ini. Dari beberapa cabang nomor perlombaan, Inay panggilan akrab teman-temannya mampu menaiki podium pada dua cabang diantaranya Juara II Renang Gaya Kupu 50m dan Juara III Renang Gaya Ganti 100m. Ibu Tutik selaku orang tua Inay mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada semua pihak. “Terimakasih bapak-ibu atas support-nya, mba Inay bisa membawa harum SDUA,” pesan Ibu Tutik.


SDUA sangat bangga memiliki siswa yang berprestasi seperti mba Inay, apresiasi tertinggi untuk siswa-siswi yang mampu mengharumkan SDUA di segala cabang perlombaan. Seperti yang diungkapkan Emmi Laili Handayani, S.Pd selaku guru kelas IV D Thalhah merasa bersyukur dan memberikan ucapan selamat kepada Inay atas prestasi yang telah diraih dan berharap bisa member inspirasi bagi yang lainnya. (tutup)


 

Jumat, 15 September 2017

KUNJUNGAN STUDI SDUA 2017

Kunjungan studi siswa kelas III,IV, dan VI SD Ungulan ‘Aisyiyah Bantul serentak dilaksanakan pada Kamis, 14/9. Sebelum pemberangakatan, seluruh siswa mengikuti upacara pelepasan yang dipimpin oleh Suwardi, S,Si selaku Kepala Sekolah SDUA. Target kunjungan studi terbagi 3 tempat diantaranya Desa Wisata Wayang Wukirsari (siswa kelas IV), Museum Soeharto (siswa kelas III), dan Museum Merapi (siswa kelas VI).




[caption id="attachment_1219" align="alignleft" width="300"] Siswa SDUA kelas IV membuat hiasan dari janur[/caption]

Kegiatan ini selain bertujuan sebagai wisata edukasi, siswa dapat merasakan langsung dan mencoba berbagai wahana edukasi yang bermanfaat. Seperti yang dirasakan Rafi Maulana siswa kelas IV D Thalhah, awalnya kesusahan saat membuat hiasan candi dari janur. Berbekal peragaan yang dilakukan oleh pemandu wisata Wayang Wukirsari, hampir 3 hiasan janur candi diselesaikan. Bukan hanya siswa, guru pendamping pun tertantang untuk membuat beberapa hiasan janur dengan bentuk candi, pecut, belalang, dan lainnya. Ditempat lain, dilakukan pemutaran video tentang Gunung Merapi dan simulasi gempa vulkanik dari erupsi Gunung Merapi. “Bagus-bagus semua, yang paling menarik liat videonya,” tegas Najwa siswa kelas VI Abdurahman. Pengetahuan baru dia dapatkan, seperti batu-batuan, gempa vulkanik, dan terjadinya erupsi gunung berapi. Sementara itu di Museum Soeharto, siswa kelas III dapat mengenal sejarah kebangsaan, biografi Presiden Soeharto, dan peristiwa lainnya.




[caption id="attachment_1220" align="alignright" width="300"] Kunjungan di Museum Soeharto[/caption]

Kunjungan studi dirasa tepat sebagai salah satu metode guna menunjang proses pembelajaran di SDUA. Harapannya kegiatan ini dapat mengenalkan secara utuh mengenai sumber daya alam yang ada mulai dari awal hingga akhir. Meski lelah, semua siswa merasa senang karena mendapatkan pengetahuan yang baru dan bisa diceritakan kepada keluarga masing-masing. (tutup)

Senin, 11 September 2017

LESTARIKAN BUDAYA LEWAT FESTIVAL DOLANAN & JAJANAN TRADISIONAL


Festival Dolanan dan Jajanan Tradisional 2017 SD Unggulan ‘Aisyiyah Bantul berjalan sangat meriah, Sabtu 9/9. Seluruh siswa berantusias mengikuti acara yang diadakan di Lapangan Ringinharjo, Bantul. Selain ikut memeriahkan perayaan Hari Olahraga Nasional, event ini bertujuan mengenalkan siswa kepada permainan tradisional yang lama tidak dimainkan.


Fanis Sofyan selaku panitia festival menyampaikan bahwa saat ini siswa-siswi masih sedikit
yang mengetahui dan memainkan dolanan tradisional. “Mereka tahu-nya gadget dan gadget, dolanan ular naga atau sejenisnyan belum tau,” tegas ketua panitia. Hal ini menjadi perhatian panitia sebagai pihak penyelenggara guna menggaungkan kembali berbagai dolanan tradisional di era modernisasi.


Ada 19 cabang dolanan tradisional, diantaranya Jemparingan, Egrang, Tamparan, Bakiak Bathok, Yeye, Baksodor, Boi-Boinan, Benthik, Bas-Basan & Nekeran. Dolanan lain diperuntukan bagi kelas bawah, seperti Balap Karung Estafet, Lari Kelereng Estafet, Ombak Banyu, Tiga Jadi, Kucing-Kucingan, Ingkling, Cendhak Dhodhok, Ular Naga, Cublak-Cublak Suweng, dan Dakon.




[caption id="attachment_1207" align="alignright" width="344"] Permainan nekeran yang dimainkan siswa SDUA.[/caption]

Seluruh siswa yang mengikuti cabang dolanan akan memperebutkan medali emas, perunggu, dan perak. Hasil perolehan medali secara langsung akan diakumulasi guna menentukan juara umum kategori kelas atas dan bawah. Selain cabang dolanan, ada juga cabang jajanan tradisional, perwakilan setiap kelas menampilkan panganan tradisional dari seluruh daerah di Indonesia. Ada yang membawa gethuk, klepon, apem, dan makanan khas lainnya. “Kita jual jajanan klepon, lupis, dan masih ada lainnya,” ungkap Latisha. Siswa kelas IV D Thalhah ini menjajakan makanan tradisional yang disajikan dan disusun rapi dengan tampah, supaya menarik perhatian pembeli.




[caption id="attachment_1206" align="alignleft" width="270"] Jajanan tradisional yang ditampilkan dalam Festival.[/caption]

Festival dolanan dan jajanan tradisional kali ini terbilang sangat sukses, meski kegiatan dilangsungkan saat terik matahari menyengat, tetapi semangat anak-anak, dan kekompakan panita penyelenggara menutup segala kekurangan. Fanis mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungannya dari berbagai pihak sehingga kegiatan berjalan sukses. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penyelenggaraan event tahunan ini. (tutup)